Membangun Gambar Diri

Membangun Gambar Diri

May 25, 2012

Gambar diri adalah bagaimana kita menilai diri kita dan berhubungan dengan diri kita. Gambar diri menentukan prestasi tertinggi yang bisa diraih. Gambar diri mempengaruhi bagaimana orang membawakan dirinya.

Ada kisah ayam yang tinggal di bawah bukit. Dia menemukan telur rajawali dan ditetaskan. Telur itu menetas dan bertumbuh bersama anak-anak ayam. Dia bertanya berkali-kali kepada mamanya meskipun dia merasa aneh karena dia sulit berlaku seperti anak ayam. Namun mamanya tetap berkata kalau dia adalah ayam. “Apapun bentukmu, kamu adalah anak mama.” Demikianlah berkali-kali dikatakan mamanya bahwa dia adalah ayam. Bahkan sampai mamanya meninggalpun tidak disampaikan kepadanya bahwa dia sebenarnya adalah rajawali. Akhirnya rahasia ini tidak dinyatakan dan rajawali ini mati dengan keyakinan bahwa dia adalah ayam!

Saudara, kita ini berbeda dengan lainnya. Kita ini mempunyai nilai-nilai Kerajaan Allah. Kita memang berada di bumi ini, tetapi kita harus berbeda. Sebab Roh Kudus yang ada dalam kita itu luar biasa.

Gambar diri mempengaruhi bagaimana kita berhubungan dengan orang lain dan orang lain berhubungan dengan kita. Maria berkata di Luk. 1:38, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Itu adalah perkataan Maria mengenai dirinya sendiri. Dia mempunyai penilaian akan dirinya sendiri bahwa dia adalah hamba Tuhan, meskipun dia ini berasal dari keluarga tukang kayu.

Di samping sebagai hamba Tuhan, saya juga seorang usahawan yang kerapkali diajak ke tempat-tempat yang “tidak berkenan” oleh para rekanan. Akhirnya saya deklarasikan bahwa saya hamba Tuhan dan sejak saat itu mereka mengubah pandangannya tentang saya dan juga tentang bagaimana mereka memperlakukan saya.

Tunjukkanlah identitas kita bahwa kita adalah hamba Tuhan dan itu akan mempengaruhi hubungan kita dengan mereka. Dan tentunya mereka tidak berani macam-macam menawarkan segala kenikmatan dunia.

Bagaimana cara membangun gambar diri?

1. Memperkatakan firman kepada diri kita. Itulah yang dilakukan Maria saat menerima kabar tentang bayi Yesus yang  akan lahir. Kita harus tahu apa yang firman katakan tentang kita. Misalnya Alkitab berkata, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yes. 43:4).

Anda melihat bertapa Anda itu sangat berharga di mata-Nya. Dia rela berkorban dan mati buat Anda. Ini artinya Anda sangat berharga bagi Dia. Jadi Anda harus memperkatakan apa yang Tuhan katakan tentang diri Anda. Jadi katakanlah pada diri sendiri, “ Saya mulia dan Tuhan mengasihi saya.”

Apa lagi yang firman katakan tentang saya? Alkitab berkata, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Anda melihat  bahwa benih yang Tuhan taruh itu baik. Itulah kita, itulah benih ilahi dalam diri kita.

Daud berkata dalam Mzm. 139:13, 14, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”

Siapa sih Daud itu dulunya? Dia tidak diperhitungkan bahkan oleh ayahnya sendiri saat dia diabaikan saat Samuel mau mengurapinya menjadi raja. Dia ada di padang menggembalakan domba. Bahkan Daud saat berhadapan dengan Goliat, ia juga dianggap rendah. Namun Daud mempunyai gambar diri yang luar biasa. Dia melihat dirinya sebagaimana Allah melihatnya.

2. Perkatakanlah firman Tuhan. Zefanya berkata 3:17, “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.”

Katakanlah tentang diri kita. Katakanlah hal-hal yang positif.

3. Kita harus berfungsi sebagaimana Allah merancang kita. Alkitab berkata, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Sejak semula Allah menetapkan bahwa kita diciptakan untuk memelihara, dan itu artinya kita harus bekerja. Karena itulah mengapa kita mudah tersinggung kalau kita tidak bekerja. Jadi kita harus bekerja! Itu merupakan disain awal manusia. Atau dalam istilah kekristenan itulah hidup yang berdampak! Bagaimana kita bisa berdampak? Lakukanlah yang sederhana dengan memberikan pertolongan kepada orang-orang di sekitar kita. Dulu saya pernah memberikan dana setiap bulan untuk membayar uang sekolah seorang anak di desa. Dan itu benar-benar membuat saya berbahagia. Dan hidup saya menjadi berdampak kepada anak itu dan keluarganya juga. Itulah salah satu contohnya.

Kita harus bekerja untuk menjadikan hidup yang berdampak. Sebab kalau kita menganggur gambar diri kita rusak! Suami yang tidak bekerja akan mempunyai gambar diri yang rusak. Dia akan mudah tersinggung. Jadi kita sebenarnya diciptakan supaya kita bekerja. Alkitab berjanji bahwa apa saja yang kita kerjakan berhasil. Sebab kita mendapatkan kasih karunia Tuhan.

Alkitab meneguhkan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10). Kita diciptakan untuk berbuat baik dan untuk kemuliaan namanya (Yes. 43:7).

4. Belajarlah berbicara di depan publik. Inilah salah satu cara untuk membangun gambar diri kita. Sebab Anda mempunyai gambar diri yang kuat, jadi Anda juga tidak ragu untuk tampil di hadapan banyak orang. Anda tidak minder. Anda mau tunjukkan kepada orang-orang di depan Anda bahwa Allah telah mengangkat Anda, bahkan menjadikan Anda anak-Nya.

Kalau gambar diri Anda mulai rusak dan iblis mulai datang dengan tipuannya, kembalilah kepada kebenaran firman Tuhan. Maksimalkan hidup Anda dengan pengertian akan siapakah diri Anda sebenarnya di dalam Kristus. Amin.

Leave a Reply