“ Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13).
Pengampunan, gratis bagi pihak penerima; tetapi bagi pihak yang memberikan, pengampunan harus dibayar dengan harga yang mahal. Seperti Yusuf dengan saudara-saudaranya (Kej. 50:20). Yusuf telah mengampuni saudara-saudaranya, sehingga segala kesulitan dan perlakuan tidak enak yang dialaminya selama belasan tahun, dimana semuanya itu diawali oleh perbuatan saudara-saudaranya Yusuf kepadanya, bukan sesuatu yang perlu ditagihkan kepada saudara-saudaranya.
Pengampunan adalah keputusan untuk tidak lagi menuntut; keputusan untuk menghapus hutang; keputusan untuk menyatakan “Saya membebaskan orang yang menyakiti dan menganiaya saya, dan saya tidak akan menuntut apapun dari dia, bahkan setelah yang dilakukannya kepada saya.”
Melalui ayat bacaan hari ini, kita belajar:
- TUHAN LEBIH DULU MEMBAYAR HARGA PENGAMPUNAN BAGI KITA
Yesus mengampuni kita dengan:- Meninggalkan sorga & kemuliaan-Nya (Filipi 2:6)
- Menjadi sama dengan seorang hamba (Filipi 2:7)
- Mati sebagai penjahat, atau orang yang terkutuk di atas kayu salib (Filipi 2:8)
- Hanya karena belas kasih-Nya kepada kita (Matius 18:27)
- Tuntas, dengan harga yang lunas dibayar (1 Korintus 6:20)
- Tandas, hilang sama sekali dosa dari hidup kita (Yesaya 1:18b)
Ketika kita bergumul dalam hal mengampuni, kita harus ingat betapa kasih dan karunia pengampunan Tuhan yang telah dilakukan-Nya lebih dulu bagi kita sejak awal.
- LIHAT DAN INGAT KEBAIKAN ORANG LAIN
Bagian “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain…” (Kolose 3:13) dalam Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI), dituliskan: “Janganlah melihat kelemahan saudara-saudari kita…” Artinya bahwa kita perlu belajar melihat & mengingat kebaikan-kebaikan yang orang lakukan kepada kita, sehingga kita lebih mudah untuk mengampuni kesalahan orang lain kepada kita. Kita akan sulit mengampuni, saat kita selalu mengingat kelemahan & kejelekan orang lain. Putuskan untuk mengampuni, bukan karena orang yang menyakiti kita layak menerima pengampunan, tetapi karena kita layak mendapatkan damai sejahtera dan kebebasan dari belenggu kekecewaan dan sakit hati. Jika kita tidak membebaskan diri melalui pengampunan, maka kita akan terus-menerus dibelenggu oleh beban dan luka. Bagaimana jika orang yang menyakiti kita meninggal? Kita bisa ‘terjebak’ dengan beban dan luka seumur hidup kita. - LATIH DIRI MENGAMPUNI
Markus 11:25 [TSI] “Setiap kali kamu berdoa, periksalah dirimu sendiri kalau kamu masih menyimpan sakit hati kepada seseorang. Maafkanlah orang itu lebih dahulu, supaya Bapamu yang di surga juga mengampuni semua kesalahanmu.”
Dalam perikop nasehat tentang doa, Tuhan Yesus menyatakan bahwa setiap kali kita berdoa, kita harus melepaskan pengampunan kepada orang yang menyakiti kita. Inilah yang disebut dengan “Fisioterapi Mengampuni”, yaitu dengan belajar mengucapkan ucapan pengampunan bahkan ucapan kasih dan berkat bagi orang yang menyakiti kita dalam setiap doa yang kita naikkan. Saat kita terus melatih hal ini, maka ketika kita ketemu dengan orang yang menyakiti kita, maka pengampunan akan mengalir dari dalam hati. Rasa sakit akan digantikan oleh rasa kasih dan damai sejahtera dalam hati kita. Tuhan Yesus juga berpesan, untuk kita selalu berdoa bagi orang yang menganiaya kita (Matius 5:44).
DALAM PROSES PENYEMBUHAN LUKA HATI, PENGAMPUNAN SELALU MENJADI PEMBUNUH RASA SAKIT (pain killer) TERBAIK & ALLAH SELALU MENJADI PENYEMBUH (healer) TERBAIK.