Berbicara tentang ‘kebenaran’, tentunya standar kebenaran yang sejati adalah firman Tuhan; bukan kebenaran yang menurut kita sendiri. Yohanes 17:17 menyatakan “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Hanya firman Tuhan, kebenaran yang membawa kita hidup dalam kekudusan. Oleh karena itu, penting bagi setiap kita untuk selalu membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan dalam keseharian kita.
Mari kita belajar bagaimana supaya kebenaran itu menjadi kehidupan nyata generasi ke generasi. Kita akan belajar dari Ulangan 6:4-9.
- KEBENARAN HARUS HIDUP LEBIH DULU DALAM HATI KITA
Ayat 5-6 menyatakan: “Kasihilah Tuhan Allahmu… Apa perhatikan yang kuperintahkan, haruslah engkau perhatikan…”
Sebelum diteruskan kepada generasi selanjutnya, pertama-tama kebenaran itu harus hidup dulu di dalam hati setiap kita, dalam hal ini adalah kita sebagai orang tua. Ketika orang tua menghidupi kebenaran, maka mereka akan menjadi ‘figur’ yang dibutuhkan oleh generasi, yaitu anak-anak yang Tuhan percayakan dalam kehidupan pernikahan / keluarga. Ayah akan menjadi figur yang memberikan suara ketegasan, rasa aman, arahan dan identitas yang jelas kepada anak-anak. Ibu akan menjadi figur kehangatan, tempat pulang dan bercerita, tempat anak merasa diterima. Jika generasi tidak menemukan figur di dalam rumah, mereka akan mencari figur diluar rumah atau di media sosial yang tidak akan memberikan / mengajarkan kebenaran yang sejati. - KEBENARAN HARUS DIAJARKAN SECARA INTENSIONAL (SENGAJA)
Ayat 7 menyatakan: “…haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang…”
Kebenaran tidak diwariskan secara otomatis, tidak diturunkan melalui DNA atau kebiasaan agamawi, tetapi harus diajarkan secara intensional (sengaja), yaitu berulang-ulang dan terus-menerus. “Mengajarkan berulang-ulang” dalam bahasa Ibrani menggunakan kata “shanan” yang berarti mengasah, mempertajam, dan menanam. Semua arti kata itu, menyatakan tindakan yang harus dilakukan secara tekun, terus-menerus dan berulang-ulang, sehingga didapatkan hasil yang nyata dan berdampak. - KEBENARAN HARUS BERTUMBUH MELALUI KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Ayat 7 menyatakan: “…waktu duduk, berjalan, berbaring, bangun…”
Pertumbuhan iman dan kebenaran, tidak cukup hanya dengan momen yang besar, tetapi harus terjadi dalam keseharian. Oleh karena itu, pastikan kita mengatur/mengelola waktu dan menciptakan momen dalam keseharian, sehingga kita sebagai orang tua bisa menyatakan dan mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita. - KEBENARAN HARUS TERLIHAT
Ayat 8-9 menyatakan: “…ikatkanlah…tuliskanlah…”
Kebenaran tidak hanya diajarkan melalui suara yang didengar, tetapi juga melalui sikap, perbuatan, kebiasaan dan keputusan yang bisa dilihat langsung oleh mereka. Pastikan respon yang kita berikan terhadap keadaan atau orang-orang di sekitar kita, ada dalam kebenaran.
SETIAP GENERASI HIDUP DENGAN CERITA DAN TANTANGAN YANG BERBEDA. DALAM SEMUA ITU, KERINDUAN TUHAN ADALAH BAHWA SETIAP GENERASI HIDUP DALAM KEBENARAN YANG SEJATI





