Beberapa orang bertanya, “Mengapa memakai istilah yang “kok susah banget sih”? Kenapa pakai istilah yang hampir asing di telinga kita: leksikon, sintaksis, dan habitus? Bukankah lebih mudah jika langsung menggunakan ‘Arti Kata’, ‘Susunan Kata’, dan ‘Gaya Hidup’?”
Pertanyaan itu wajar. Namun kami sengaja mempertahankan istilah aslinya, karena nama dan penjelasan memiliki fungsi yang berbeda. Nama berfungsi sebagai identitas. Penjelasan berfungsi sebagai jembatan pemahaman.
Alkitab memberi kita pola yang menarik dalam caranya melintasi bahasa. Ada istilah yang, meskipun berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain, tetap dipertahankan bentuknya sebagai istilah teologis khusus karena kekayaan maknanya. Kata Mesias, misalnya, berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “yang diurapi.” Ketika Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata ini diterjemahkan menjadi Kristus. Namun menariknya, bentuk aslinya, Mesias, tetap dipakai berdampingan dengan Kristus dalam teks Yunani itu sendiri (bnd. Yoh. 1:41, 4:25), seolah-olah para penulis Alkitab sadar bahwa sebagian makna lebih baik dijaga dalam bentuk aslinya daripada diterjemahkan. Pola serupa terjadi pada kata Injil. Kata ini berasal dari bahasa Yunani euangelion, yang artinya “kabar baik,” namun tidak pernah benar-benar diterjemahkan ke bahasa-bahasa berikutnya. Bentuknya terus dipertahankan, dari Yunani ke Siria, lalu Arab, hingga akhirnya masuk ke bahasa Indonesia, tetap dipakai sebagai Injil.
Pola yang sama bahkan dipakai dalam ibadah kita sehari-hari. Kata “Amin”, dari bahasa Ibrani āmēn, “sungguh” atau “biarlah demikian,” tidak pernah diterjemahkan menjadi padanan Indonesia; bentuk aslinya itulah yang kita ucapkan setiap kali menutup doa. Begitu pula “Haleluya”, dari Ibrani hallelu-Yah, yang artinya “pujilah TUHAN,” tetap dipakai dalam bentuk aslinya, bukan diterjemahkan menjadi “pujilah Tuhan.” Setiap kali jemaat mengucapkan dua kata ini, sebenarnya mereka sedang mengucapkan kata Ibrani yang sama seperti yang diucapkan umat Allah ribuan tahun lalu.
Di sisi lain, ada istilah yang diterjemahkan sepenuhnya ke dalam bahasa sehari-hari, namun bobot maknanya tetap dijaga dengan sungguh-sungguh, tidak diringankan menjadi kata yang lebih umum. Kerajaan Allah diterjemahkan penuh dari basileia tou Theou, tetapi tidak pernah disederhanakan menjadi sekadar “pemerintahan yang baik.” Anugerah diterjemahkan dari charis, tetapi tidak direduksi menjadi “hadiah” atau “kebaikan hati.” Pertobatan diterjemahkan dari metanoia, yang secara harfiah berarti perubahan pikiran dan arah hidup, tetapi tidak diringankan menjadi sekadar “menyesal” atau “minta maaf.” Pembenaran diterjemahkan dari kata kerja Yunani dikaioo, istilah ranah pengadilan yang berarti dinyatakan benar, tetapi tidak disederhanakan menjadi “menjadi orang baik.” Penebusan diterjemahkan dari apolutrosis, gambaran pembebasan melalui pembayaran tebusan, seperti menebus barang gadai, tetapi tidak diringankan menjadi sekadar “diselamatkan.”
Kedua pola ini, mempertahankan bentuk asli dan menerjemahkan dengan menjaga bobot makna, sebenarnya menuju tujuan yang sama: memastikan kekayaan makna sebuah istilah tidak hilang saat berpindah bahasa. Dalam kedua pola itu, prinsipnya sama:
Istilahnya boleh dalam, penjelasannya harus membumi.
Kami percaya bahwa pemuridan yang utuh tidak hanya mengubah kosakata orang percaya, tetapi juga cara mereka memahami Alkitab, dan akhirnya cara mereka menjalani hidup. Karena itulah program ini disusun dalam tiga lapisan: Leksikon, Sintaksis, dan Habitus. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan saling membentuk satu proses pemuridan yang utuh. Istilah-istilah ini kami pinjam dari dunia bahasa dan ilmu sosial, bukan dari kosakata Alkitab sendiri, karena masing-masing secara tepat menggambarkan satu lapisan dalam proses itu. Padanan yang lebih ringan, seperti “Arti Kata,” “Susunan Kata,” atau “Gaya Hidup,” kehilangan presisi yang justru penting untuk diajarkan.
Leksikon berbicara tentang arti kata. Apa makna istilah seperti Kerajaan Allah, Injil, pertobatan, iman, anugerah, dan murid. Tanpa memahami arti kata, kita mudah memakai bahasa Alkitab dengan pengertian yang keliru.
Sintaksis berbicara tentang cara kita menyusun kata-kata sehingga membentuk makna yang benar. Kami meminjam istilah ini dari tata bahasa karena memahami arti setiap kata saja belum cukup. Kata-kata itu harus disusun dengan benar agar menghasilkan makna yang utuh. Demikian pula dalam Alkitab. Mengetahui arti istilah seperti Kerajaan Allah, Injil, anugerah, atau pertobatan saja belum cukup. Kita juga harus memahami bagaimana semuanya saling terhubung dalam satu kisah besar Allah: penciptaan, kejatuhan, penebusan, pembaruan, dan penggenapan. Di situlah setiap kebenaran menemukan tempat dan maknanya.
Habitus berbicara tentang pola hidup. Ketika makna itu benar-benar dipahami dan dihidupi bersama Roh Kudus yang bekerja di dalam kita, ia tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi membentuk nilai, karakter, kebiasaan, dan cara hidup orang percaya. Kebenaran akhirnya membentuk budaya Kerajaan dalam kehidupan umat Allah.
Alurnya sederhana dan mudah diingat:
Leksikon memberi kata. Sintaksis memberi makna. Habitus membentuk cara hidup.
Ketiganya bukan tiga anak tangga yang ditinggalkan setelah dilewati, melainkan satu siklus yang terus berputar. Semakin kita memahami firman, semakin benar cara kita memandang dunia. Semakin benar cara kita memandang dunia, semakin kehidupan kita diubahkan. Dan kehidupan yang diubahkan membawa kita kembali memahami firman dengan lebih dalam. Seperti seorang anak belajar bahasa ibunya bukan pertama-tama dari kamus, melainkan dengan hidup di tengah keluarga yang berbicara, demikian pula kebenaran Kerajaan dipelajari melalui pemberitaan firman, lalu dihidupi bersama dalam komunitas iman. Dalam proses itulah pengertian dan kehidupan saling memperdalam. Seperti seorang anak belajar bahasa ibunya bukan pertama-tama dari kamus, melainkan dengan hidup di tengah keluargnya, demikian pula kebenaran Kerajaan, tidak hanya dipelajari melalui penjelasan, tetapi juga melalui kehidupan bersama dalam komunitas iman. Firman diberitakan, dipahami, dipraktikkan, lalu membentuk manusia baru.
Dalam proses itulah pengertian dan kehidupan saling memperdalam. Prinsip ini sejalan dengan gagasan James K. A. Smith, filsuf Kristen dan profesor filsafat, yang menekankan bahwa pembentukan manusia terjadi melalui praktik dan kebiasaan yang membentuk kasih serta hasratnya (Desiring the Kingdom: Worship, Worldview, and Cultural Formation, Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2009). Namun, bagi orang percaya, praktik tersebut selalu lahir dari, dituntun oleh, dan diuji berdasarkan firman Allah (2Tim. 3:16-17).
Di pusat semuanya adalah Roh Kudus. Ia bukan lapisan keempat, melainkan Pribadi yang menghidupkan ketiga lapisan itu. Ia menerangi pengertian akan firman (1Kor. 2:12-14), memperbarui budi (Rm. 12:2), dan mengerjakan kemauan serta kemampuan untuk melakukan kehendak Allah (Flp. 2:13).
Karena itu, budaya Kerajaan tidak diciptakan oleh manusia, tetapi dibentuk oleh Roh Kudus melalui firman dan ketaatan umat Allah. Gereja tidak mendirikan Kerajaan Allah, melainkan menerima, mewujudkan, dan menjadi saksi dari Kerajaan yang telah Allah anugerahkan (Luk. 12:32).
Dalam jangka panjang, kami berharap ketiga istilah ini menjadi bahasa pemuridan di dalam gereja. Leksikon, Sintaksis, dan Habitus bukan lagi sekadar nama program, melainkan kosakata yang dipahami bersama. Jemaat dapat dengan mudah berkata, “Hari ini kita belajar Leksikon,” “Kita sedang membangun Sintaksis,” atau “Ini sedang membentuk Habitus kita.” Ketika sebuah gereja memiliki bahasa yang sama, ia juga lebih mudah membangun cara berpikir dan cara hidup yang sama.
Dengan demikian, Leksikon, Sintaksis, dan Habitus bukan sekadar tiga istilah, melainkan tiga lensa untuk melihat bagaimana Allah membentuk umat-Nya: firman dipahami, kebenaran dihubungkan, dan kehidupan diubahkan oleh Roh Kudus bagi kemuliaan Kristus.





