Ibadah pengucapan syukur seharusnya menjadi momen tahunan yang dirayakan dengan sukacita. Gereja bersyukur atas penyertaan Allah, panen rohani, dan kebaikan-Nya sepanjang tahun. Menariknya, waktu ibadah ini sering bertepatan dengan Sukkot atau Hari Raya Pondok Daun dalam tradisi Yahudi.
Sebagian orang bertanya: apakah ini berarti gereja sedang “menghidupkan kembali” hari raya Perjanjian Lama? Apakah ibadah ini versi Kristen dari Sukkot?
Jawabannya jelas “tidak.” Gereja bukan merayakan Sukkot Perjanjian Lama, melainkan menghidupi penggenapan dari Sukkot itu sendiri dalam Kristus — dan perspektif eskatologis menegaskan maknanya lebih jauh, yaitu pengharapan akan kedatangan Kristus kedua kali.
1. Sukkot: Bayangan Kehadiran dan Harapan Mesianik
Dalam Imamat 23:33–43, Sukkot ditetapkan sebagai hari raya panen dan peringatan penyertaan Allah di padang gurun. Orang Israel tinggal di pondok daun (sukkah) untuk mengenang perlindungan Allah dalam perjalanan menuju tanah perjanjian.
Maka makna teologisnya:
- Pondok sementara: ketergantungan penuh pada Allah.
- Panen: pemeliharaan dan berkat Allah yang nyata.
- Kehadiran awan dan tiang api: Allah tinggal di tengah umat-Nya.
Selain itu, Sukkot memiliki dimensi eskatologis: orang Yahudi merayakannya sambil menunggu Mesias yang dijanjikan, membuka atap sukkah sebagai simbol kerinduan akan kedatangan-Nya. Sayangnya, Mesias sudah datang tapi mereka menolak bahkan menyalibkan-Nya. Berkaitan dengan ini, Paulus menegaskan: “Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang akan datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” (Kolose 2:17)
Augustinus menulis: “Apa yang disembunyikan dalam bayangan Perjanjian Lama, kini dinyatakan dalam terang Kristus.” (Contra Faustum, XIX.23)
Sukkot adalah simbol sementara yang menunjuk pada inkarnasi Kristus dan kehadiran Allah yang kekal di tengah umat-Nya.
2. Kristus: Sukkot yang Digenapi
Yohanes 1:14 menggunakan istilah Yunani ἐσκήνωσεν – eskenōsen: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”
Kata eskenōsen berarti “mendirikan kemah”, menunjuk langsung pada Sukkot. Kristus adalah tabernakel sejati, tempat Allah berdiam di tengah manusia.
T. Wright menekankan: “Ketika Yesus datang, Ia bukan sekadar pengunjung dari surga; Ia adalah bait Allah yang berjalan—hadirat Allah yang kini berdiam di antara umat-Nya.” (Jesus and the Victory of God, 1996)
George Eldon Ladd menambahkan: “Kerajaan Allah adalah realisasi dari hadirat Allah yang telah datang dalam pribadi Kristus.” (The Gospel of the Kingdom, 1959)
Kristus adalah penggenapan Sukkot, dan dalam diri-Nya, Allah menyatakan kehadiran dan pemeliharaan secara sempurna.
3. Ibadah Pengucapan Syukur Gereja: Proklamasi dan Eskatologis
Gereja tidak meniru ritual Yahudi. Ibadah pengucapan syukur adalah proklamasi realitas rohani Kerajaan Allah, dan memiliki dimensi eskatologis: pengharapan kedatangan Kristus kedua kali.
- Ucapan Syukur sebagai Gaya Hidup Kerajaan
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)
Syukur adalah nafas kehidupan Kerajaan, bukan sekadar ritual tahunan.
- Fokusnya Bukan Panen Bumi, Tapi Panen Penebusan
Sukkot berpusat pada hasil bumi; ibadah syukur gereja berpusat pada buah salib dan anugerah.
Gordon D. Fee: “Di dalam Roh, umat Allah hidup dari panen yang baru — buah Roh yang merupakan tanda kehadiran Kerajaan.” (Paul, the Spirit, and the People of God, 1996)
Pengucapan syukur gereja adalah panen jiwa, bukan panen padi.
- Liturgi Universal, Bukan Etnis
Sukkot adalah perayaan Israel; ibadah pengucapan syukur gereja adalah perayaan seluruh umat tebusan dari segala bangsa (Wahyu 7:9).
4. Dari Pondok Sementara ke Kediaman Kekal
Sukkot: pondok sementara; Kerajaan Allah: kediaman kekal.
Wahyu 21:3: “…Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”
William J. Seymour menulis: “Kita adalah kemah Allah yang hidup, karena Roh Kudus telah turun dan berdiam di dalam kita.” (The Apostolic Faith, 1906)
Dimensi eskatologis muncul jelas: sama seperti orang Yahudi menantikan Mesias, gereja menantikan kedatangan Kristus kedua kali, ketika seluruh ciptaan dipenuhi oleh hadirat-Nya secara sempurna.
5. Perspektif Teologi Kerajaan Allah
Craig Keener: “Yesus datang bukan untuk menghapus makna simbol-simbol Perjanjian Lama, tetapi untuk memenuhinya dengan realitas Kerajaan.” (The IVP Bible Background Commentary: New Testament, 1993)
Ibadah pengucapan syukur adalah deklarasi iman dan pengharapan eskatologis. Gereja berdiri dalam terang penggenapan, bukan meniru Israel lama.
Penutup
Sukkot menunjuk pada hadirat Allah di tengah umat-Nya dan pengharapan Mesianik. Ibadah pengucapan syukur menegaskan bahwa hadirat itu kini tinggal di dalam kita.
Sukkot: simbol; Kristus: realitas.
Tidak salah jika ibadah pengucapan syukur bertepatan dengan Sukkot, sebab yang dirayakan adalah penggenapan janji Allah dalam Kristus — dan harapan eskatologis akan kedatangan-Nya yang kedua.
Akhirnya, ibadah pengucapan syukur mengarah ke satu pesta terakhir — Perjamuan Anak Domba — di mana seluruh ciptaan berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Wahyu 7:10). Amin.





