Pernah muncul kegaduhan di kalangan umat Kristen Indonesia mengenai penyebutan nama Tuhan. Sampai sekarang sepertinya masih banyak orang Kristen yang bingung tentang penyebutan “Allah” dan “Yahweh”. Ada anggapan bahwa kita tidak boleh lagi menggunakan kata “Allah” karena dianggap bukan “nama asli” Tuhan atau milik agama lain. Sebaliknya, ada gerakan yang mewajibkan penggunaan kata “Yahweh”.
Apakah benar iman kita salah alamat hanya karena masalah bunyi kata? Mari kita bedah persoalan ini secara singkat, mendalam namun santai, dengan berpijak pada sejarah, bahasa, dan Alkitab.
- Rahasia Tetragrammaton: Antara Tulisan dan Ucapan
Dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama), nama pribadi Tuhan muncul sebanyak lebih dari 6.800 kali dalam bentuk empat huruf konsonan: יהוה (YHWH), yang dikenal sebagai Tetragrammaton.
Namun, ada fenomena unik yang disebut “Vocalic Silence” (Kebisuan Vokal). Sejak sekitar abad ke-3 SM, umat Yahudi berhenti melafalkan nama ini karena rasa hormat yang luar biasa dan takut melanggar hukum ketiga (jangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan).
Praktik Ketiv-Qere: Dalam naskah Ibrani, terdapat tradisi Ketiv (apa yang tertulis) dan Qere (apa yang dibaca). Mereka menulis YHWH, tetapi saat membaca dengan lantang, mereka mengucap Adonai (Tuhanku).
Referensi: Emanuel Tov, ahli kritik teks Alkitab paling terkemuka di dunia, dalam bukunya Textual Criticism of the Hebrew Bible (2011), menjelaskan bahwa praktik penggantian ini adalah standar emas dalam sejarah transmisi Alkitab demi menjaga kekudusan teks.
Ilustrasi: Bayangkan Anda memiliki nama ayah yang sangat sakral. Anda menulis namanya di dokumen, tetapi setiap kali memanggilnya, Anda menyebutnya “Ayah” atau “Bapak”. Apakah Ayah Anda marah? Tidak, itu adalah bentuk penghormatan tertinggi.
- “Yahweh” Itu Hasil Tebakan (Rekonstruksi)
Banyak orang mengira “Yahweh” adalah bunyi asli dari langit. Faktanya, “Yahweh” adalah sebuah rekonstruksi akademis modern. Karena vokal asli YHWH tidak pernah diucapkan selama berabad-abad, bunyi aslinya secara teknis “hilang”.
Pada abad ke-19, para ahli bahasa mencoba merekonstruksi bunyi tersebut berdasarkan nama-nama tokoh di Alkitab (seperti Yeshayahu atau Yesaya) dan catatan sejarah kuno.
Fakta Menarik tentang “Yehuwa/Jehovah”: Nama ini sebenarnya adalah “salah sambung” sejarah. Pada abad pertengahan, orang Kristen menggabungkan konsonan YHWH dengan vokal dari kata Adonai. Hasilnya adalah “Jehovah”.
Referensi: The Anchor Yale Bible Dictionary menegaskan bahwa “Yahweh” adalah rekonstruksi ilmiah yang paling mendekati kebenaran, tetapi bukan tradisi lisan yang diwariskan tanpa putus dari zaman nabi-nabi.
- Memahami Bedanya “Nama” dan “Gelar” Ini adalah kunci paling penting: Kita harus membedakan antara Nama Pribadi dan Gelar/Kata Benda Umum.
- Elohim (Ibrani): Artinya “Tuhan” atau “Ilah”. Ini bukan nama pribadi, melainkan sebutan untuk golongan keberadaan ilahi. Di Alkitab, kata Elohim bahkan digunakan untuk merujuk pada dewa-dewa bangsa lain.
- Theos (Yunani): Dalam Perjanjian Baru, para Rasul menerjemahkan Elohim menjadi Theos.
- Allah (Arab/Indonesia): Ini adalah padanan kata untuk Elohim dan Theos.
Akar Semitik yang Sama: Kata Elohim (Ibrani) dan Allah (Arab) berasal dari akar kata yang sama, yaitu ‘L. Secara linguistik, keduanya adalah saudara kandung dalam keluarga bahasa Semitik.
Referensi: Pakar Timur Tengah kuno, Frank Moore Cross, dalam bukunya Canaanite Myth and Hebrew Epic, menunjukkan bahwa istilah-istilah ini adalah cara standar orang-orang di Timur Tengah menyebut Sang Pencipta.
- Kristen Arab: Pemilik Sah Kata “Allah” Ada mitos bahwa kata “Allah” adalah milik eksklusif agama tertentu. Sejarah berkata lain. Jauh sebelum abad ke-7 (era Islam), orang-orang Kristen di Jazirah Arab sudah menggunakan kata “Allah” dalam doa dan liturgi mereka.
- Prasasti Um al-Jimal: Arkeologi menemukan prasasti Kristen Arab dari abad ke-5 dan ke-6 yang memuat kata “Allah”.
- Gereja Coptic dan Maronite: Sampai hari ini, jutaan orang Kristen di Mesir, Lebanon, dan Suriah beribadah menggunakan bahasa Arab dan memanggil Tuhan dengan nama “Allah”.
Referensi: Sejarawan Sidney Griffith dalam buku The Bible in Arabic (2013) menegaskan bahwa bagi komunitas Kristen kuno, “Allah” adalah istilah teologis yang sah untuk menerjemahkan konsep Tuhan yang Esa dalam Alkitab.
- Mengapa Alkitab Indonesia Memakai “Allah”?
Para penerjemah Alkitab ke bahasa Melayu/Indonesia (seperti Melchior Leijdecker pada tahun 1733) tidak asal-asalan memilih kata. Mereka mencari kata yang paling tinggi dan paling dimengerti oleh masyarakat nusantara untuk merujuk pada Sang Pencipta yang Esa.
Jika kita memaksakan kata “Yahweh” masuk ke seluruh teks Alkitab Indonesia, kita justru mengabaikan prinsip Perjanjian Baru. Mengapa? Karena para penulis Perjanjian Baru sendiri (yang menulis dalam bahasa Yunani) tidak memaksakan kata “Yahweh” ke dalam tulisan mereka. Mereka lebih memilih menggunakan kata Kyrios (Tuhan) dan Theos (Allah).
- Kesimpulan: Tuhan Melihat Hati, Bukan Sekadar Fonetik
Iman Kristen tidak berpijak pada “kekuatan magis” dari sebuah bunyi atau fonetik. Nama Tuhan adalah representasi dari Pribadi-Nya, bukan mantra yang harus diucapkan dalam bahasa Ibrani agar manjur.
- Kalau saya memanggil ayah saya “Papa”, “Papi”, atau “Bapak”, ayah saya tahu saya sedang memanggilnya. Kenapa? Karena ada hubungan (relasi).
- Identitas Allah Kristen tidak ditentukan oleh bunyi kata “Allah”, melainkan oleh isi dari kata itu: Yaitu Allah yang adalah Bapa, yang menyatakan diri-Nya dalam Anak-Nya Yesus Kristus, dan hadir melalui Roh Kudus.
| Istilah | Asal Bahasa | Peran dalam Alkitab |
| YHWH | Ibrani | Nama pribadi eksklusif Allah Israel. |
| Elohim | Ibrani | Gelar generik untuk Tuhan (sebagai Pencipta). |
| Theos | Yunani | Terjemahan Elohim dalam Perjanjian Baru. |
| Allah | Arab/Melayu | Terjemahan kontekstual untuk Theos/Elohim. |
Jadi, Jangan biarkan perbedaan istilah memecah belah kasih persaudaraan di gereja. Jika ada yang lebih nyaman memanggil “Yahweh”, silakan. Namun, jangan menghakimi mereka yang memanggil “Allah”, karena sejarah dan Alkitab justru mendukung penggunaan bahasa lokal untuk menyembah Tuhan yang universal. Amin.*



