Pernahkah Anda membuka dua terjemahan Alkitab yang berbeda dan menemukan makna yang bertolak belakang? Itulah yang terjadi pada Yehezkiel 34:16. Alkitab Terjemahan Baru (TB-LAI) menerjemahkan bagian akhir ayat ini sebagai “yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi,” sementara New International Version (NIV) menerjemahkannya sebagai “the sleek and the strong I will destroy” — Aku akan membinasakan yang gemuk dan yang kuat.
Dua terjemahan yang diakui. Dua makna yang berlawanan. Mana yang benar?
Jawaban atas pertanyaan ini lebih menarik daripada sekadar memilih salah satu.
Masalah pada Naskah Aslinya
Perbedaan ini bukan disebabkan oleh penerjemah yang ceroboh atau tidak kompeten. Akar masalahnya terletak pada naskah Ibrani kuno itu sendiri. Ada dua kata Ibrani yang terlibat di sini, yang berbeda hanya pada satu huruf terakhir:
אשמיד (‘ashmîd) — “Aku akan membinasakan, menghancurkan”
אשמר (‘eshmor) — “Aku akan menjaga, memelihara, melindungi”
Perbedaannya terletak pada huruf ד (daleth) dan ר (resh). Dalam aksara Ibrani kuno, kedua huruf ini sangat mirip bentuknya — satu lebih bersiku, satu lebih melengkung. Dalam proses penyalinan naskah selama berabad-abad, kesalahan tulis seperti ini sangat mungkin terjadi.
Teks Masoret — naskah Ibrani standar yang menjadi dasar sebagian besar terjemahan modern — memuat kata ‘ashmîd (binasakan). Sementara itu, Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar abad ke-2 SM, memuat kata φυλάξω (fulaksō) yang berarti “menjaga, melindungi” — mencerminkan kata Ibrani ‘eshmor di baliknya. TB-LAI mengikuti Septuaginta; NIV, ESV, dan NRSV mengikuti Teks Masoret.
Mengapa “Kubinasakan” Lebih Dapat Dipertahankan
Meskipun kedua terjemahan didukung oleh sumber yang sah, ada beberapa alasan kuat untuk mempertahankan terjemahan “Kubinasakan” dari Teks Masoret sebagai bacaan yang lebih orisinal.
Pertama, ada prinsip dalam kritik teks yang disebut lectio difficilior potior — bacaan yang lebih sulit cenderung lebih orisinal. Seorang penyalin yang membaca “Aku akan membinasakan domba yang gemuk” mungkin merasa tergoda untuk menyesuaikannya menjadi “melindungi” agar selaras dengan konteks sebelumnya yang berbicara tentang kasih Tuhan. Sebaliknya, tidak ada motif logis bagi seorang penyalin untuk mengubah “melindungi” menjadi “membinasakan.” Ini berarti ‘ashmîd lebih mungkin sebagai bacaan asli.
Kedua, ayat 16 berfungsi sebagai engsel (hinge) yang menghubungkan dua unit besar dalam pasal 34. Ayat 11–15 berbicara tentang Tuhan sebagai gembala yang baik — yang mencari yang hilang, membalut yang luka, menguatkan yang lemah. Namun ayat 17–22 bergerak ke arah yang berbeda: penghakiman antara domba yang kuat dan domba yang lemah. Domba yang gemuk dan kuat di ayat 20–21 digambarkan sebagai penindas — yang mendesak, menanduk, dan mengusir domba yang lemah. Kata “membinasakan” di ayat 16 bukan anomali — ia adalah transisi yang disengaja.
Ketiga, perhatikan kata penutup ayat ini: “Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya” — dalam bahasa Ibrani, בְמִשׁפָּט (bemishpat). Kata ini berarti “dengan keadilan” atau “dengan penghakiman.” Mishpat bukan hanya soal belas kasihan — ia mencakup dua sisi: memulihkan yang tertindas sekaligus menghakimi yang menindas. Ini justru semakin mendukung terjemahan “membinasakan,” karena mishpat yang sejati tidak bisa hanya memeluk tanpa pernah mengadili.
Konteks Teologis Yehezkiel
Ada pola berulang dalam kitab Yehezkiel: janji pemulihan dan ancaman penghakiman hadir berdampingan, bahkan dalam satu napas. Ini berbeda dari nabi-nabi lain yang lebih konsolatoris. Yehezkiel tidak memisahkan kasih Allah dari keadilan-Nya — keduanya adalah dua wajah dari ketuhanan Allah yang utuh.
Dalam konteks aslinya, “domba yang gemuk dan kuat” bukan gambaran netral. Ini adalah metafora untuk pemimpin-pemimpin Israel — para tua-tua, imam, dan penguasa — yang menyalahgunakan otoritas mereka untuk menindas rakyat yang sudah lemah. Tuhan tidak akan tinggal diam terhadap ketidakadilan ini.
Di sinilah ironi yang perlu ditajamkan: pasal 34 berbicara dalam konteks pembuangan Babel. Israel sedang berada dalam masa yang paling kelam — tanah air dirampas, Bait Allah dihancurkan, rakyat tercerai-berai dalam kemiskinan dan kehilangan. Di tengah kemelaratan kolektif itulah, ada segelintir orang yang justru “gemuk.” Kegemukan mereka bukan kebetulan dan bukan berkat — ia adalah buah dari eksploitasi terhadap sesama yang sedang menderita. Mereka minum air yang jernih dan mengotori sisanya dengan kaki mereka; mereka merumput di padang yang subur dan menginjak-injak selebihnya (bdk. Yeh. 34:18–19).
Semakin gemuk seekor domba di tengah kawanan yang kelaparan, semakin besar kemungkinan ia telah merampas jatah yang lain. Inilah yang membuat peringatan di ayat 16 terasa pedas — bukan sekadar ancaman abstrak, melainkan respons Allah yang spesifik dan tepat sasaran terhadap ketidakadilan yang nyata. Kata “Kubinasakan” atau “Kuawasi” menangkap ketajaman itu dengan jauh lebih baik daripada sekadar “Kulindungi.” Penggembalaan yang benar tidak hanya merawat yang lemah — ia juga menghadapi dan menghentikan yang kuat yang menyalahgunakan kedudukannya.
Implikasi bagi Pembaca Masa Kini
Bagi kita yang membaca Yehezkiel 34 hari ini, terjemahan “Kubinasakan” membawa pesan yang lebih menantang sekaligus lebih utuh.
Allah yang digambarkan di sini bukan sekadar Allah yang lembut dan merangkul. Ia adalah Allah yang adil — yang tidak akan membiarkan para penindas terus berkuasa atas nama kesalehan. Domba yang gemuk boleh terlihat kuat, mapan, bahkan religius — tetapi jika kekuatan itu digunakan untuk mendesak dan menyingkirkan yang lemah, ia berada di bawah ancaman penghakiman Tuhan.
Ini juga berarti “penggembalaan yang baik” dalam visi Yehezkiel bukan hanya tentang kelembutan pastoral — ia mencakup keberanian profetis untuk menghadapi ketidakadilan di dalam komunitas iman sendiri.
Langkah LAI dalam Terjemahan Baru (TB2)
Lembaga Alkitab Indonesia rupanya menyadari ketegangan ini dan meresponsnya dengan sangat cermat dalam Alkitab Terjemahan Baru edisi kedua (TB2). Perhatikan bagaimana Yehezkiel 34:16 diterjemahkan dalam TB2:
“Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, serta yang gemuk dan kuat akan Kuawasi. Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.”
TB2 tidak memilih “Kulindungi” (TB-LAI 1974) maupun “Kubinasakan” (NIV), melainkan menggunakan kata “Kuawasi.” Pilihan ini sangat disengaja dan mencerminkan pertimbangan tekstual yang matang.
Kata “awasi” adalah terjemahan yang mengakomodasi makna leksikal אשמר (‘eshmor) secara lebih penuh. Kata kerja Ibrani ini memang memiliki rentang makna yang luas: menjaga, memelihara, melindungi, — tetapi juga “mengamati dengan seksama” atau “mengawasi.” Dalam konteks penggembalaan, “mengawasi” bukan sekadar memandang dari jauh. Seorang gembala yang mengawasi kawanan domba berarti ia hadir, waspada, dan siap bertindak — baik untuk melindungi yang lemah maupun untuk mengendalikan yang kuat jika diperlukan.
Dengan pilihan “Kuawasi,” TB2 berhasil menjembatani ketegangan yang ada. Di satu sisi, ia tetap berakar pada tradisi teks ‘eshmor (LXX) yang diwarisi TB-LAI 1974. Di sisi lain, ia tidak menghilangkan nuansa pengawasan aktif yang mengandung konsekuensi — sehingga tidak tertutup kemungkinan bahwa domba yang gemuk dan kuat itu, jika bertindak sewenang-wenang, berada di bawah pemantauan dan tanggung jawab Allah yang serius.
Langkah LAI ini patut diapresiasi sebagai teladan penerjemahan yang bertanggung jawab: bukan sekadar memilih salah satu tradisi secara mentah, melainkan berupaya mencari padanan yang paling jujur terhadap rentang makna kata aslinya — sekaligus tetap dapat dipahami oleh jemaat umum. Ini adalah contoh bagaimana pekerjaan penerjemahan Alkitab bukan sekadar teknis, melainkan sungguh-sungguh teologis.
Kesimpulan
Jadi, mana yang benar — “Kulindungi” atau “Kubinasakan”?
Secara tekstual, “Kubinasakan” lebih kuat didukung oleh Teks Masoret, prinsip kritik teks, dan koherensi konteks keseluruhan pasal 34. TB-LAI tidak salah — ia mengikuti tradisi teks yang sah dari Septuaginta. Namun terjemahan yang mengikuti Masoret lebih mencerminkan ketegangan teologis yang tampaknya memang disengaja oleh Yehezkiel.
Yang terpenting, perbedaan terjemahan ini bukan ancaman terhadap otoritas Alkitab — melainkan undangan untuk membaca lebih dalam. Di balik satu huruf yang berbeda tersimpan seluruh kekayaan teologi tentang Allah yang sekaligus menggendong yang lemah dan menghadapi yang kuat. Itulah Allah yang dikenal Yehezkiel — dan yang kita kenal dalam Yesus Kristus, Gembala yang Baik itu.
Menarik bahwa Yesus sendiri memberikan contoh nyata dari “Kuawasi” yang mengandung konsekuensi ini. Ketika Ia memasuki Bait Allah dan membalikkan meja para penukar uang serta mengusir pedagang (Mat. 21:12–13; Yoh. 2:13–17), itu bukan tindakan impulsif — itu adalah tindakan seorang Gembala yang mengawasi kawanan-Nya dan mendapati bahwa rumah doa telah berubah menjadi tempat eksploitasi. Mereka yang “gemuk” dari bisnis agama di pelataran Bait Allah berhadapan langsung dengan kegeraman profetis sang Gembala Agung. Ini adalah gema yang sangat kuat dari Yehezkiel 34: penggembalaan yang baik tidak pernah bersifat pasif. Ia mencari yang hilang, membalut yang luka — dan menghadapi yang kuat yang menyalahgunakan kedudukannya demi merampas milik yang lemah.*




