Gaya Hidup Penggembalaan Dalam Kebenaran

Dalam perjalanan kehidupan kita, ada 3 hal yang harus selalu terjaga supaya kita tetap ada dalam penggembalaan Sang Gembala Agung, yaitu Tuhan Yesus.  3 hal itu adalah nilai kebenaran (value), identitas sebagai umat Tuhan (identity) dan tujuan Tuhan dalam hidup (purpose).  Ketiga ada yang tidak terjaga, maka kita akan terhilang, tersesat, dan tersakiti dalam perjalanan hidup kita.

Melalui perikop “Gembala yang Baik” dalam Yohanes 10, kita akan belajar bagaimana gaya hidup penggembalaan dalam kebenaran, yaitu:

  1. MELIBATKAN TUHAN DLM SEGALA HAL (ayat 1,2 & 9)
    Dalam penggembalaan pada zaman itu, kandang domba tidak punya pintu, dan gembalanya yang akan menjadi pintu bagi kandang domba.  Demikian juga dalam kehidupan kita, Tuhanlah yang menjadi pintu bagi kehidupan kita.  Hal ini berarti bahwa  dalam setiap aspek kehidupan kita, kita harus melibatkan Tuhan.  Oleh karena itu, hubungan kita dengan Tuhan bukan hubungan secara ‘ritual’, tapi secara relasi (ada kedekatan dan keterbukaan).  Program itu baik, tapi kalau tidak ada hubungan, maka semua tidak akan berjalan dengan baik.  Demikian juga dalam kehidupan keluarga, hubungan yang secara relasi harus dibangun dengan kuat, baik dengan Tuhan maupun antar anggota keluarga.
  2. BERSEDIA MENGOREKSI DIRI DAN MENERIMA KOREKSI DARI ORANG LAIN (ayat 4-5)
    Jangan ada seorangpun yang merasa diri paling benar, baik dalam lingkungan keluarga, maupun dalam komunitas pekerjaan atau pelayanan.  Perlu kerendahan hati untuk bersedia mengoreksi diri dan menerima koreksi.  Kerendahan hati membuat kewibawaan terbangun bukan karena kehebatan kita, tetapi karena Pribadi Kristus terlihat nyata melalui kehidupan kita.  Koreksi dari orang-orang terdekat kita akan membentuk kehidupan kita, tidak hanya lebih baik di mata sesama kita, tetapi juga lebih berkenan di hadapan Tuhan.
  3. SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI (ayat 11)
    “Salib” itu adalah akronim dari Sekolah Allah Lewat Ilmu Berbagi.  Hal ini hanya bisa terjadi kalau kita selesai dengan diri sendiri.  Kita perlu menyadari bahwa perjalanan hidup kita adalah untuk mempersiapkan generasi selanjutnya.  Kalau kita tidak selesai dengan diri sendiri, maka kita akan mengalami kesulitan dan stress sendiri, karena kita tidak pernah mempersiapkan generasi selanjutnya.  Ketika ego kita mati, maka kehendak Tuhan akan hidup dalam kita.  Selesai dengan diri sendiri berarti: bukan lagi aku yang terutama, tetapi TUHAN yang memimpin kehidupan kita.
  4. MEMENTINGKAN HUBUNGAN, BUKAN PROGRAM ATAU ATURAN (ayat 14-15)
    Program atau aturan, memang bisa mengubah perilaku seseorang, tetapi hanya hubungan dalam kasih yang bisa mengubah hati dan karakter.  Dalam kehidupan ini, orang bisa lupa dengan suatu program, tetapi tidak akan mudah lupa dengan tindakan kasih yang pernah diterimanya.  Saat kita memiliki hubungan dalam kasih, kita bisa menyadari bahwa ketika kita diizinkan mengalami kekecewaan, kita sedang dibentuk menjadi lebih dewasa; ketika kita diijinkan terluka, kita sedang dilatih untuk menjadi berhikmat, lebih waspada dan lebih kuat.
  5. TIDAK MUNDUR MENGHADAPI TANTANGAN (ayat 19-21)
    Iman dalam Tuhan, tidak akan membuat kita lari menghindari badai, tapi justru kita akan berjalan bersama Tuhan menghadapi dan menang atas badai.  Iman terkecil bersama Tuhan lebih kuat dari ketakutan terbesar apapun yang kita hadapi dalam perjalanan kehidupan kita.

JALANI HIDUP DALAM KETAATAN SEPENUHNYA
TERHADAP KEHENDAK SANG GEMBALA AGUNG ATAS KEHIDUPAN KITA.