Penjelasan Pdt. Daniel J. Tanudjaja – Gembala GBI ROCK Surabaya.
Ke depan, Anda akan semakin sering mendengar istilah Kerajaan Allah dan paradigma kerajaan dalam berbagai pengajaran, ibadah, dan kehidupan bergereja di GBI ROCK Surabaya. Tulisan ini disiapkan sebagai bacaan awal, supaya sebelum kita masuk lebih dalam bersama-sama minggu demi minggu, Anda sudah punya gambaran yang jelas dan cukup mendalam tentang apa yang sedang kita kerjakan, dan mengapa hal ini begitu penting bagi hidup kita sebagai jemaat. Kami menyampaikan ini bukan sekadar sebagai pengumuman program baru, melainkan sebagai dokumen dasar yang kelak akan terus kita rujuk bersama, sebab paradigma ini akan membentuk arah jangka panjang gereja kita.
Sederhananya begini. Kita percaya bahwa seluruh Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, sebenarnya menceritakan satu kisah besar tentang kerajaan Allah, yaitu bagaimana Allah memerintah dengan kasih, bagaimana manusia sempat keluar dari pemerintahan itu, dan bagaimana Allah bekerja untuk membawa kita kembali ke dalamnya melalui Yesus Kristus. Ketika kita memahami Alkitab lewat kacamata ini, banyak hal yang tadinya terasa terpisah-pisah, tentang keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan masa depan, mulai terlihat sebagai satu gambar besar yang utuh.
Sebutan warga kerajaan yang mungkin sering Anda dengar dalam ibadah kita bukanlah sekadar istilah baru yang terdengar unik. Sebutan ini mengingatkan kita bahwa identitas kita yang paling dasar bukan ditentukan oleh pekerjaan, status sosial, atau pencapaian duniawi, melainkan oleh kenyataan bahwa kita adalah milik Kristus dan tunduk kepada pemerintahan-Nya, di mana pun kita berada.
Ada satu hal yang ingin kami tegaskan sejak awal, supaya tidak ada kesalahpahaman. Paradigma kerajaan yang kami maksud adalah paradigma yang Kristosentris, yang berpusat pada Kristus. Kerajaan Allah tidak pernah bisa dipisahkan dari Pribadi Rajanya sendiri, yaitu Yesus Kristus. Bukan paradigma dulu, baru Kristus menyusul sebagai salah satu topik di dalamnya. Sebaliknya, Kristuslah pusat dari segalanya, dan paradigma kerajaan hanyalah cara kita melihat seluruh Alkitab, seluruh hidup, dan seluruh gereja ini berpusat pada Dia. Karena itu, mengenal kerajaan tanpa semakin mengasihi Kristus berarti kehilangan inti kerajaan itu sendiri. Kami berharap, setelah membaca tulisan ini sampai selesai, yang tumbuh dalam hati Anda bukan sekadar “Saya mengerti paradigma kerajaan,” melainkan “Saya ingin semakin mengenal Yesus.”
Alkitab sebagai Kitab Kerajaan
Mari kita mulai dari awal. Waktu Allah menciptakan Adam dan Hawa, Ia tidak sekadar meletakkan mereka di taman Eden untuk hidup santai. Allah memberi mereka tugas yang mulia, yaitu menjadi wakil-Nya di bumi ini, mengelola ciptaan dengan penuh kasih dan tanggung jawab, sebagaimana tertulis, Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, dan berfirman kepada mereka, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu (Kejadian 1:26-28). Kata gambar Allah di sini penting, sebab artinya manusia diciptakan untuk memerintah bumi ini seperti Allah memerintah, dengan kasih, keadilan, dan kepedulian, bukan dengan kekerasan atau keserakahan. Inilah identitas pertama manusia sebelum ada bangsa, pekerjaan, ataupun pelayanan.
Inilah yang oleh para ahli teologi biasa disebut sebagai rancangan mula-mula Allah, sebuah dunia di mana Allah memerintah, manusia menjadi wakil-Nya yang setia, dan segala sesuatu berjalan sebagaimana seharusnya. Sarjana Perjanjian Baru George Eldon Ladd menyebut kerajaan Allah sebagai benang merah yang menyatukan seluruh Alkitab, mulai dari janji-janji Perjanjian Lama sampai penggenapannya di dalam Yesus (Ladd, 1974). Karena itulah kita bisa berkata bahwa Alkitab adalah kitab kerajaan, bukan berarti kerajaan adalah satu-satunya tema di dalamnya, sebab Alkitab juga penuh dengan tema perjanjian dan kasih setia Allah, tetapi karena kerajaan Allah adalah gambar besar yang mengikat semuanya menjadi satu cerita yang utuh.
Sayangnya, di Kejadian pasal 3 mencatat bagaimana manusia memilih untuk tidak percaya lagi pada kebaikan Allah, dan memilih jalannya sendiri. Peristiwa yang biasa kita sebut kejatuhan ini membuat manusia keluar dari rancangan mula-mula itu. Hubungan dengan Allah rusak, hubungan antar sesama manusia rusak, bahkan hubungan manusia dengan alam pun ikut rusak. Dunia yang tadinya damai kini dipenuhi persaingan, ketakutan, dan penderitaan. Setiap kali kita melihat berita tentang kekerasan, ketidakadilan, atau kehancuran keluarga, sesungguhnya kita sedang melihat akibat dari manusia yang keluar dari pemerintahan Allah yang baik itu.
Sepanjang Perjanjian Lama, Allah tidak meninggalkan manusia begitu saja. Ia memanggil Abraham, membentuk bangsa Israel, dan berulang kali menjanjikan bahwa suatu hari akan datang seorang Raja yang akan memerintah dengan adil dan membawa damai sejahtera bagi segala bangsa, sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Yesaya tentang pemerintahan yang tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud (Yesaya 9:6-7). Sepanjang ratusan tahun umat Allah menantikan kedatangan Raja itu, sering kali dengan pengharapan yang naik turun, sebab bangsa mereka berulang kali dijajah dan tertindas. Penantian panjang inilah yang akhirnya digenapi, bukan dengan seorang raja duniawi yang gagah perkasa, melainkan dengan seorang bayi yang lahir sederhana di kandang domba di Betlehem.
Yesus dan Kerajaan yang Sudah Datang tapi Belum Sempurna
Seluruh hidup Yesus, mulai dari kelahiran-Nya, pelayanan-Nya, salib-Nya, kebangkitan-Nya, hingga kedatangan-Nya kembali, adalah kisah tentang datangnya pemerintahan Allah ke tengah dunia. Di titik inilah kabar baik Injil menjadi begitu berarti. Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, kalimat pertama yang Ia ucapkan bukan tentang aturan agama baru, melainkan tentang kerajaan, waktunya telah genap, kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil (Markus 1:15). Yesus datang bukan sekadar untuk mengajar kita menjadi orang baik, tetapi untuk memulihkan pemerintahan Allah yang sempat rusak akibat dosa. Ia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, dan justru karena itu Ia sanggup menjadi Raja sekaligus Penebus kita. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus mengalahkan dosa dan maut, dan mulai memerintah sebagai Raja atas hidup setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Supaya kabar baik ini tidak tereduksi menjadi sekadar cara hidup yang lebih baik, penting untuk kita tegaskan apa yang terjadi di kayu salib. Di sanalah Yesus, Raja itu sendiri, menanggung hukuman dosa yang seharusnya kita tanggung, sehingga permusuhan antara kita dengan Allah didamaikan (2 Korintus 5:18-19). Kebangkitan-Nya pada hari ketiga membuktikan bahwa dosa dan maut sudah dikalahkan, dan menjadi jaminan kebangkitan kita kelak. Kerajaan Allah adalah kabar baik bukan pertama-tama karena kita diajar hidup lebih beretika, melainkan karena Sang Raja sudah menebus umat-Nya lewat pengorbanan-Nya sendiri. Kabar baik ini menjadi milik kita ketika kita meresponnya dengan pertobatan dan iman, berbalik dari dosa dan percaya sepenuhnya kepada Kristus sebagai Raja dan Juruselamat (Kisah Para Rasul 2:38, Efesus 2:8-9).
Sepanjang pelayanan-Nya, Yesus menunjukkan tanda-tanda nyata bahwa kerajaan itu sungguh sudah hadir. Ia menyembuhkan orang sakit, membebaskan orang yang terikat kuasa gelap, mengampuni dosa, dan mengangkat mereka yang selama ini dipandang rendah oleh masyarakat. Semua ini bukan sekadar pertunjukan kuasa, melainkan tanda bahwa pemerintahan Allah yang membawa pemulihan sudah mulai masuk ke dalam dunia yang rusak ini.
Sejak pelayanan Yesus, kita juga berhadapan dengan pertanyaan lama dalam sejarah gereja, apakah karunia-karunia semacam ini masih berlaku sampai hari ini. Sebagai gereja Pentakosta, GBI meyakini continuationism, bahwa Roh Kudus terus bekerja dengan cara yang sama sampai sekarang, berbeda dari sebagian tradisi lain yang meyakini karunia itu sudah berhenti sejak zaman rasuli. Teolog Pentakosta Frank Macchia bahkan menghubungkan langsung pencurahan Roh ini dengan kerajaan Allah yang terus berlangsung hingga kesempurnaannya kelak (Macchia, 2006).
Namun ada satu hal penting yang perlu kita pahami dengan jujur. Kerajaan yang dibawa Yesus ini sudah dimulai, tetapi belum selesai sepenuhnya, dikenal sebagai “sudah dan belum” (already but not yet), dan dirumuskan secara sistematis oleh George Eldon Ladd (1974). Kristus sudah memerintah dan hadir nyata di dalam hati orang percaya dan gereja-Nya sekarang. Namun dunia belum sepenuhnya dipulihkan, dan kita masih menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menegakkan pemerintahan-Nya secara sempurna dan kekal di bumi ini (Wahyu 20). GBI, sebagaimana tercantum dalam Pengakuan Iman kita, memegang pandangan premilenium dispensasional tentang urutan peristiwa akhir zaman ini, sekalipun kita mengakui bahwa sebagian tradisi Kristen lain memahaminya secara berbeda.
Ini penting supaya kita tidak keliru mengira tugas kita adalah membangun kerajaan yang sempurna itu sendiri lewat usaha manusia, seolah budaya atau pelayanan kita yang cukup besar akan mewujudkannya sendiri. Yang kita hidupi sekarang adalah tanda dan buah sulung dari pemerintahan Kristus yang sudah dimulai, sementara kesempurnaannya sepenuhnya ada di tangan Tuhan, pada waktu yang sudah Ia tentukan. Tugas kita bukan mengambil alih dunia dengan kekuasaan, melainkan hadir sebagai garam dan terang di tengah keluarga, pekerjaan, dan masyarakat kita (Matius 5:13-16).
Mengapa GBI ROCK Memilih Paradigma Kerajaan
Kami percaya Tuhan sedang mengundang GBI ROCK Surabaya untuk menjadi komunitas warga kerajaan yang menghadirkan karakter Kristus bagi kota ini. Sejak berdirinya, GBI ROCK Surabaya ingin agar seluruh pengajaran dan gaya hidup jemaat berakar pada kebenaran ini. Bukan sekadar menjadi jemaat yang tahu banyak ayat Alkitab, tetapi menjadi warga kerajaan yang benar-benar hidup sesuai dengan pemerintahan Allah, di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan di tengah pergaulan sehari-hari.
Kami percaya bahwa ketika seorang jemaat sungguh-sungguh memahami dirinya sebagai warga kerajaan Allah, cara ia memandang hidupnya akan berubah. Pekerjaannya bukan lagi sekadar mencari nafkah, melainkan tempat untuk menyatakan karakter Raja yang ia layani. Keluarganya bukan lagi sekadar kumpulan orang yang tinggal serumah, melainkan miniatur kerajaan Allah, tempat kasih dan ketaatan pada Tuhan dihidupi setiap hari. Inilah yang kami sebut sebagai budaya kerajaan, kehadiran yang mengubahkan, dimulai dari hal-hal kecil dalam hidup kita sehari-hari.
Bayangkan bila ribuan warga kerajaan hidup seperti Kristus di kota Surabaya: suami mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya; orang tua mendidik anak-anak dengan kesabaran dan kasih, bukan kemarahan; pebisnis berlaku jujur sekalipun itu berarti kehilangan keuntungan; pegawai melayani atasan dan rekan kerja dengan integritas, bukan sekadar mengejar posisi; mahasiswa belajar dengan kesetiaan, bukan jalan pintas, dunia di sekitar kita mungkin tidak langsung berubah secara instan, tetapi setiap tempat yang disentuh oleh warga kerajaan akan mulai memancarkan sedikit demi sedikit terang pemerintahan Sang Raja. Bukankah ini yang Anda rindukan juga bagi kota ini, bagi keluarga Anda, bagi tempat Anda bekerja dan belajar?
Secara konkret, paradigma ini akan hadir lewat beberapa jalur sekaligus. Setiap minggu, jemaat akan menerima satu leksikon kerajaan yang baru, dilengkapi materi pengajaran singkat berdurasi sekitar lima menit secara berkala. Komsel-komsel akan membahas materi seputar paradigma kerajaan ini, supaya pemahamannya digumuli bersama dalam kelompok kecil, bukan berhenti di permukaan. Khotbah-khotbah Minggu ke depan pun akan diselaraskan dengan paradigma yang sama, demikian pula seluruh jenjang pembelajaran di gereja kita, termasuk modul ROCK Journey yang selama ini sudah berjalan. Dengan begitu, dari ibadah Minggu, komsel, sampai kelas pemuridan, Anda akan mendengar irama yang sama.
Tiga Langkah: Leksikon, Sintaksis, Habitus
Supaya kebenaran ini benar-benar tertanam dan bukan sekadar wacana sesaat, GBI ROCK Surabaya menempuhnya lewat tiga langkah sederhana. Untuk memudahkan, mari kita bayangkan proses belajar bahasa asing.
Langkah pertama disebut leksikon, yaitu kosakata. Sebelum seseorang bisa berbicara bahasa baru dengan lancar, ia harus mengenal kata-katanya terlebih dahulu. Dengan cara yang sama, setiap minggu jemaat GBI ROCK akan menerima satu leksikon, penjelasan singkat tentang satu istilah penting dalam iman Kristen. Ini penting sebab kata-kata yang kita pakai sehari-hari sebenarnya mencerminkan sekaligus membentuk cara kita berpikir. Kalau kosakata iman kita dangkal atau bahkan keliru, cara kita memahami Tuhan dan hidup kita pun akan ikut dangkal dan keliru. Sebagai gambaran sederhana, dunia sering memakai kata sukses untuk berarti kekayaan, jabatan, atau popularitas semata. Namun lewat kacamata kerajaan, sukses yang sesungguhnya adalah semakin serupa dengan Kristus dan semakin setia menjalankan panggilan yang Tuhan percayakan, apa pun bentuknya.
Langkah kedua disebut sintaksis, yaitu cara kita merangkai kata-kata itu menjadi kalimat yang bermakna, menghubungkan satu kebenaran Alkitab dengan kebenaran yang lain menjadi kerangka berpikir yang utuh, bukan sekadar tahu satu ayat di sini dan satu ayat di sana. Dengan sintaksis yang benar, kita mampu membedakan pengajaran yang sehat dari yang menyimpang, sekalipun keduanya sama-sama memakai ayat Alkitab sebagai rujukan, misalnya pengajaran yang menjanjikan berkat materi secara otomatis kalau iman kita cukup besar. Pengajaran seperti itu keliru bukan karena kekurangan ayat, melainkan karena ayat-ayatnya dilepaskan dari keseluruhan cerita Alkitab tentang kerajaan Allah yang penuh pengorbanan, bukan sekadar transaksi.
Langkah ketiga, dan inilah yang paling menentukan, disebut habitus, yaitu kebiasaan hidup. Sebab kata-kata dan pemahaman yang benar sekalipun tidak akan banyak berarti kalau tidak pernah turun menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Salah seorang pemikir Kristen masa kini, James K. A. Smith, menuliskan bahwa yang paling membentuk diri kita bukan pertama-tama apa yang kita pikirkan, melainkan apa yang kita cintai dan kita lakukan berulang-ulang setiap hari (Smith, 2009). Cara kita berbicara kepada pasangan, cara kita menghadapi tekanan pekerjaan, cara kita menggunakan waktu dan uang, semua ini adalah habitus yang menunjukkan kerajaan siapa yang sesungguhnya kita layani setiap hari. Sebagai contoh, seorang warga kerajaan yang kecewa dengan rekan kerja tidak langsung membalas dengan sindiran di media sosial, melainkan mengambil waktu berdoa dan memilih kata yang membangun. Kebiasaan baru memang butuh waktu dan latihan berulang, tetapi arah hidupnya jelas berubah menuju kerajaan Allah. Pada akhirnya, seluruh kebiasaan ini bukan tentang membentuk kedisiplinan demi kedisiplinan itu sendiri, melainkan tentang semakin diserupakan dengan Kristus sendiri, Sang Raja yang kita ikuti (Roma 8:29).
Ketiga langkah ini saling berkaitan dan tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Leksikon tanpa sintaksis hanya menghasilkan kumpulan istilah rohani yang terpisah-pisah dan mudah disalahgunakan. Sintaksis tanpa habitus hanya menghasilkan orang yang pintar berteologi tetapi hidupnya tidak pernah berubah. Karena itu harapan kami sederhana, ketika paradigma jemaat berubah lewat pemahaman yang benar, cara hidup jemaat pun berubah, dan ketika cara hidup berubah, budaya gereja kita ikut berubah menjadi semakin mencerminkan kasih dan kebenaran Kristus di tengah dunia ini.
Menjaga dari Penyimpangan
Paradigma kerajaan ini bukanlah rumus ajaib, bukan cara memaksa Tuhan menuruti keinginan kita lewat kata-kata tertentu. Hidup sebagai warga kerajaan berarti hati kita yang tunduk kepada pemerintahan Allah, bukan sebaliknya. Kerajaan Allah juga bukan tentang gereja mengejar kekuasaan atau pengaruh duniawi, melainkan kehadiran yang rendah hati dan penuh kasih, mengikuti teladan Yesus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Markus 10:45). Tujuannya bukan supaya kita terlihat rohani, melainkan supaya karakter kita benar-benar berubah dari dalam, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Paradigma, Bukan Program Baru
Ada satu hal terakhir yang perlu Anda pahami dengan jelas. Paradigma kerajaan bukanlah tema tahunan yang akan berganti tahun depan, bukan sekadar seri khotbah, bukan slogan gereja di spanduk, dan bukan kurikulum sementara yang akan digantikan begitu selesai dijalankan. Paradigma kerajaan adalah cara kita membaca Alkitab, mengenal Kristus, memahami identitas kita sebagai gereja, dan menjalani seluruh kehidupan sebagai murid Yesus, kerangka berpikir yang akan terus kita dalami seumur hidup sebagai warga kerajaan Allah.
Perlu Anda sadari juga, semua ini bukan sesuatu yang bisa kita capai lewat kemampuan kita sendiri. Roh Kuduslah yang membuka mata hati kita untuk memahami Firman, mengubahkan hati kita dari dalam, dan memampukan kita hidup sebagai warga kerajaan setiap hari, sebagaimana Yesus sendiri berjanji bahwa Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13). Perjalanan ini bukan hanya soal Bapa yang merancang kerajaan-Nya dan Anak yang menebus serta memerintah sebagai Raja, melainkan juga Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita masing-masing, sebuah paradigma yang berakar pada karya Allah Tritunggal.
Penutup
Perjalanan ini bukan sekadar mempelajari istilah-istilah baru. Ini adalah perjalanan pulang, pulang kepada rancangan Allah sejak semula, ketika manusia diciptakan untuk hidup di bawah pemerintahan Raja yang penuh kasih.
Sebagai langkah awal, kami mengajak Anda melakukan tiga hal sederhana pada minggu-minggu mendatang. Pertama, bacalah dan renungkan setiap leksikon kerajaan yang dibagikan setiap minggu. Kedua, bawalah pertanyaan dan pergumulan Anda ke dalam komsel untuk didiskusikan bersama. Ketiga, mintalah Roh Kudus menolong Anda menerapkan satu kebiasaan baru setiap minggunya, sekecil apa pun itu, sebagai wujud nyata bahwa Anda sedang belajar hidup sebagai warga kerajaan Allah.
Selamat datang dalam perjalanan menjadi warga kerajaan Allah. Perjalanan ini mungkin akan mengubah cara Anda membaca Alkitab, memandang dunia, membangun keluarga, bekerja, melayani, bahkan memahami diri sendiri. Namun di atas semuanya itu, kami berdoa agar perjalanan ini membawa Anda semakin dekat kepada Yesus Kristus, Sang Raja, karena mengenal Dialah tujuan akhir dari seluruh perjalanan kita. Kiranya ketika suatu hari orang melihat hidup kita, mereka dapat melihat sekilas bagaimana pemerintahan Kristus itu sebenarnya.
Kiranya Tuhan Yesus, Raja atas segala raja, memberkati dan menguatkan kita semua untuk terus bertumbuh bersama sebagai keluarga besar warga kerajaan-Nya di GBI ROCK Surabaya.





