Rewards or Punishments

Hidup ini selalu berputar di antara dua konsekuensi: penghargaan atau hukuman. Tuhan tidak pernah netral terhadap pilihan manusia. Kemenangan dan kehancuran ditentukan bukan oleh karisma, tetapi oleh karakter. Seperti dikatakan, “Karisma dapat membawa kita ke puncak, tetapi hanya karakter yang dapat menjaga kita tetap di sana.”

Kitab Bilangan 25 mencatat peristiwa tragis ketika bangsa Israel jatuh dalam dosa dengan perempuan-perempuan Moab. Daya tarik dunia—gold, glory, dan girl (atau guy)—menjerat hati mereka. Awalnya hanya pandangan, lalu perjamuan, dan akhirnya penyembahan berhala. Dosa tidak pernah datang tiba-tiba; ia tumbuh dari keinginan yang tidak dikendalikan. Yakobus 1:14–15 menegaskan, setiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, dan bila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan bila dosa matang, ia melahirkan maut.

Akibat penyembahan kepada Baal-Peor, murka Tuhan menyala-nyala atas Israel. Dua puluh empat ribu orang mati, dan para pemimpin digantung di hadapan Tuhan. Namun di tengah bencana itu, muncul seorang imam muda bernama Pinehas. Ketika banyak orang hanya menangis, ia bertindak membela kekudusan Allah. Dengan tombaknya, ia menghentikan dosa dan sekaligus menghentikan tulah. Tindakan radikal itu membuat Tuhan berfirman, “Aku berikan kepadanya perjanjian keselamatan dan keimaman yang kekal.” (Bilangan 25:12–13).

Kisah ini menunjukkan bahwa Allah menghormati orang yang berani menegakkan kebenaran, meski harus berhadapan dengan arus zaman. Mereka yang membela kehormatan Tuhan akan menerima reward berupa perjanjian damai dan warisan rohani yang kekal. Sebaliknya, mereka yang bermain-main dengan dosa, akan menuai punishment.

Karakter sejati adalah ujian iman yang sesungguhnya. Karakterlah yang membedakan antara pemimpin yang jatuh dan yang tetap berdiri teguh. Tuhan tidak mencari orang yang sekadar berbakat, tetapi yang berintegritas, penuh kasih, dan rendah hati. Dunia mungkin menilai keberhasilan dari penampilan luar, tetapi Allah menimbang hati.

Ketika dunia semakin kompromi, orang berkarakter akan tetap teguh, tidak tergoda oleh kuasa, posisi, atau uang. Mereka sadar, kesetiaan jauh lebih berharga daripada popularitas. Pinehas mengajarkan bahwa iman tanpa keberanian adalah mati, dan kasih tanpa kebenaran adalah kompromi. Jadi, pilihlah jalan karakter, karena hanya itu yang membuat seseorang layak menerima mahkota kehidupan—the crown of life—bukan murka Tuhan. Hidup ini memang pilihan: rewards or punishments. Jangan salah pilih!