Hidup Sebagai Anak Terang

1 Tesalonika 5:4–8 Paulus mengingatkan bahwa sebagai orang percaya, kita tidak boleh hidup seperti orang yang tertidur dan tidak menyadari keadaan rohaninya.  Kita dipanggil untuk hidup sebagai anak terang dan anak siang. Artinya, kita memiliki identitas dan cara hidup yang berbeda karena hidup kita berada di bawah pemerintahan Sang Raja. 

  1. SADARI IDENTITAS KITA SEBAGAI ANAK TERANG (ayat 4-5)
    Identitas sebagai anak terang adalah karena Yesus, Sang Terang, menjadi Tuhan dan Raja atas hidup kita.  Karena itu, kita tidak boleh membiarkan lingkungan menentukan siapa kita dan bagaimana kita harus hidup.

Praktisnya:

  • Ketika lingkungan menganggap kebohongan, kecurangan, atau kompromi sebagai sesuatu yang wajar, kita tetap memilih hidup benar, karena identitas kita berasal dari Tuhan.
  • Pastikan perkataan, perbuatan dan respon kita sejalan dengan terang Kristus.
  1. HIDUP DALAM KEBENARAN, BUKAN DALAM KETIDAKPEDULIAN (ayat 6-7)
    Tidur menggambarkan keadaan terputus / tidak menyadari apa yang sedang terjadi.  Secara rohani, kita bisa menjadi tidak peka terhadap dosa dan terbiasa dengan kompromi, serta tidak lagi peduli hal yang menyenangkan Tuhan atau tidak.  Kenyamanan dunia bisa membuat kita terlena sampai tidak lagi memeriksa arah hidup kita.

Praktisnya:

  • Belajar untuk selalu bertanya, “Apakah keputusan saya benar di hadapan Tuhan?”
  • Terbukalah terhadap teguran orang lain, sebab bahaya terbesar dalam hidup adalah ketika kita tidak lagi menyadari bahwa kita sedang melakukan kesalahan.
  1. SENANTIASA SIAGA DALAM IMAN, KASIH, DAN PENGHARAPAN (ayat 8)
    Kenakan perlengkapan rohani: berbaju zirahkan iman dan kasih, serta berketopongkan pengharapan keselamatan.  Iman, kasih, dan pengharapan bukan sekadar sesuatu yang kita akui, tetapi harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.  Imanà tetap percaya dan dalam kebenaran apapun keadaannya.  Kasih à sikap terhadap orang lain, sekalipun berbeda.  Pengharapan à tidak mudah menyerah, karena percaya akan kedaulatan Tuhan.

Praktisnya:

  • Jangan merespons hanya berdasarkan emosi. Ingat siapa Tuhan bagi kita dan pilih respon yang mencerminkan iman, kasih, dan pengharapan di dalam Tuhan.

HIDUP SEBAGAI ANAK TERANG BUKAN HANYA SOAL APA YANG KITA PERCAYAI, TETAPI JUGA BAGAIMANA KITA HIDUP KETIKA BERADA DI TENGAH KEGELAPAN.