Apakah penyaliban Yesus itu rencana iblis atau rencana Allah? Pertanyaan ini menjadi polemik akhir-akhir ini dan perlu diluruskan supaya kita mendapatkan pemahaman yang benar. Penggunaan frasa “rencana iblis” sebenarnya tidak salah, tapi dengan catatan yang ketat: frasa ini hanya boleh dipakai untuk menggambarkan tujuan iblis dalam konteks usahanya untuk menjatuhkan, menghentikan, atau menghancurkan misi Kristus. Lebih tepat, penggunaan istilah “niat jahat”, karena iblis tidak memiliki kedaulatan; ia hanyalah agen kehancuran yang mencoba memanipulasi peristiwa untuk kepentingan jahatnya.
Rencana Iblis: Tujuan Kehancuran
Dari perspektif Alkitab, iblis memiliki tujuan yang jelas. Sejak Taman Eden, ia berusaha menghancurkan janji Allah tentang Mesias yang akan datang (Kejadian 3:15). Penyaliban Yesus adalah puncak dari strategi iblis untuk menghentikan misi keselamatan. Tujuannya: membunuh Anak Allah, menghentikan karya-Nya, dan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan manusia. Di mata manusia, rencana iblis tampak seperti kemenangan: Yesus diserahkan kepada penguasa dunia, disalibkan, dan tampaknya mati dan “dikalahkan”.
Namun, Paulus menegaskan batas kemampuan iblis: “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya; sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia” (1 Korintus 2:8). Artinya, iblis dan manusia yang terlibat hanyalah pion dalam permainan yang lebih besar. Mereka bekerja, tetapi tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan justru menggenapi tujuan Allah.
Rencana Allah: Tujuan Penebusan
Di sisi lain, Allah memiliki tujuan yang sama sekali berbeda. Grand desain Allah sejak kekekalan adalah keselamatan manusia melalui korban Kristus di kayu salib. Salib bukan peristiwa kebetulan atau tragedi belaka. Ini adalah inti dari rencana keselamatan: jalan yang Allah tetapkan untuk menebus manusia dari dosa dan maut. Tujuan Allah jelas: menebus manusia, menegaskan ketaatan Anak-Nya, dan membuktikan kedaulatan-Nya atas segala sesuatu.
Melalui salib, apa yang tampak sebagai kemenangan iblis, kematian Yesus, justru menjadi momen kemenangan Allah. Kristus menghancurkan kuasa dosa, maut, dan kegelapan (Kolose 2:15). Satu peristiwa, dua tujuan, dua hasil yang bertolak belakang: rencana iblis untuk kehancuran gagal, tujuan Allah untuk keselamatan menang mutlak.
Pencobaan di Padang Gurun: Contoh Tujuan yang Berbeda
Untuk memahami dualitas tujuan ini, kita bisa melihat pencobaan Yesus di padang gurun (Matius 4:1-11). Ayat 1 berkata, “Maka Yesus DIBAWA OLEH ROH ke padang gurun untuk DICOBAI IBLIS.” Perhatikan, yang bawa Yesus adalah Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai iblis. Di sana, iblis mencoba menjatuhkan Yesus, menggagalkan misi-Nya, dan menimbulkan keraguan atau ketidaktaatan. Namun Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun dengan tujuan yang berbeda: membuktikan ketaatan total Anak kepada Bapa. Peristiwa yang sama, tapi tujuan berbeda. Hasilnya? Iblis gagal, Allah menang.
Hal ini memberikan kerangka teologis yang jelas untuk memahami salib. Iblis menggunakan manusia, penguasa, dan struktur dunia sebagai alat untuk menghancurkan Yesus. Tetapi tujuan Allah sudah ada sejak kekekalan, dan tidak ada kekuatan yang dapat menggagalkannya. Tujuan Allah adalah keselamatan, bukan tragedi semata yang tidak ada tujuannya.
Abaikan Polemik yang Tidak Perlu
Banyak orang Kristen terjebak dalam perdebatan soal siapa yang menyalibkan Yesus: penguasa Roma, orang-orang Yahudi, atau iblis? Semua jawaban bisa benar secara historis, tapi dari perspektif teologi, hal itu tidak relevan. Mereka semua hanyalah alat di tangan Allah untuk menggenapi tujuan-Nya. Fokus kita seharusnya adalah tujuan: iblis ingin menghancurkan, Allah ingin menyelamatkan. Salib bukan peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Rencana iblis hancur; tujuan Allah menang.
Semoga para apologet Kristen tidak lupa menekankan satu kata kunci ini: “tujuan.” Tanpa memahami tujuan, diskusi tentang salib bisa menjadi dangkal, retoris, atau malah menyesatkan. Salib bukan hanya tragedi atau hukuman politik; salib adalah puncak grand desain Allah, yang membuktikan kedaulatan-Nya, mengalahkan iblis, dan membawa keselamatan bagi umat manusia.
Kesimpulan
Penyaliban Yesus adalah contoh sempurna bagaimana rencana Allah dan rencana iblis dapat bertemu dalam satu peristiwa. Iblis merencanakan kehancuran; Allah merencanakan keselamatan. Sama seperti pencobaan di padang gurun, iblis berusaha menjatuhkan, tetapi Allah membuktikan ketaatan Anak.
Salib menegaskan grand desain Allah sejak kekekalan: keselamatan manusia melalui korban Kristus. Rencana iblis gagal, tujuan Allah menang mutlak. Fokus kita sebagai orang Kristen bukan soal siapa yang menyalibkan, tetapi memahami tujuan di balik salib. Salib bukan tragedi semata; salib adalah deklarasi kedaulatan Allah, kemenangan atas dosa, maut, dan kuasa kegelapan.
Dengan pemahaman ini, gereja tidak hanya menafsirkan sejarah, tetapi membangun iman yang teguh. Salib Kristus bukan kebetulan, bukan kegagalan, dan bukan tragedi semata. Salib adalah manifestasi kedaulatan Allah, tujuan Allah yang mutlak menang, dan bukti bahwa tidak ada kekuatan duniawi atau supranatural yang mampu menentang rencana keselamatan-Nya. Amin.





